Your 1st Ads Here

15 Pahlawan Asal Jawa Barat dan Profil Singkatnya

Unveiling the Crisis of Plastic Pollution: Analyzing Its Profound Impact on the Environment

Jawa Barat memiliki sejarah panjang dalam perjuangan bangsa Indonesia. Sejumlah tokoh dari tatar Sunda berkontribusi dalam berbagai bidang, mulai dari perjuangan melawan penjajahan, pendidikan, politik, militer, hingga gerakan sosial.

Nama-nama mereka kemudian diabadikan menjadi nama jalan, lembaga pendidikan, maupun dikenang melalui berbagai catatan sejarah.

Gelar Pahlawan Nasional sendiri merupakan bentuk penghargaan negara kepada tokoh yang dinilai berjasa bagi bangsa dan negara. Penganugerahannya biasanya menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan setiap 10 November.

Baca juga : Tokoh Inohong Sunda dan Kontribusinya bagi Tatar Sunda dan Indonesia

Salah satu tokoh Jawa Barat yang kemudian mendapatkan gelar Pahlawan Nasional adalah H Ahmad Sanusi, ulama asal Sukabumi yang pernah menjadi anggota BPUPKI. Gelar tersebut diberikan pada 2022 melalui Keputusan Presiden RI Nomor 96 TK Tahun 2022.

Lantas, siapa saja tokoh pahlawan yang berasal dari Jawa Barat?

Berikut profil singkat 15 tokoh yang memiliki kaitan dengan sejarah perjuangan dan perkembangan Jawa Barat.

1. H Ahmad Sanusi

H Ahmad Sanusi lahir pada 18 September 1889 di Desa/Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi.

Ia dikenal sebagai ulama besar yang memiliki ciri khas mengenakan peci hitam. Namanya juga tercantum dalam salah satu prasasti yang berada di Gedung Konferensi Asia Afrika (KAA) Bandung.

Ahmad Sanusi merupakan salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Ia juga mendirikan organisasi Persatuan Umat Islam (PUI).

Sebelum masa kemerdekaan, Ahmad Sanusi pernah ditahan pemerintah kolonial Belanda karena terlibat dalam upaya perlawanan terhadap penjajahan.

Atas jasa dan kiprahnya, ia sebelumnya juga memperoleh Bintang Mahaputera Utama dari Presiden Soeharto pada 1992 serta Bintang Mahaputera Adipradana dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2009.

2. Ir. H. Djoeanda Kartawidjaja

Ir. H. Djoeanda Kartawidjaja merupakan tokoh kelahiran Tasikmalaya yang memiliki peran penting dalam pemerintahan Indonesia setelah kemerdekaan.

Ia mengawali pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) sebelum melanjutkan pendidikan tinggi hingga lulus dari ITB pada 1933.

Djoeanda pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan Indonesia dalam dua periode dan menjadi Perdana Menteri Indonesia ke-10, menggantikan Ali Sastroamidjojo.

Namanya paling dikenal melalui Deklarasi Djoeanda, yang menegaskan Indonesia sebagai negara kepulauan dan memandang wilayah perairan antarpulau sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah Indonesia.

Deklarasi tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjuangan Indonesia memperkuat konsep negara kepulauan.

3. Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika lahir di Cicalengka pada 4 Desember 1884.

Ia merupakan tokoh perempuan yang dikenal karena perjuangannya dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan bagi perempuan.

Pada 1904, Dewi Sartika mendirikan sekolah perempuan di Bandung bernama Sakola Istri. Pada awal berdiri, sekolah tersebut memiliki sekitar 20 murid dan tiga tenaga pendidik.

Para murid mendapatkan berbagai keterampilan, mulai dari membaca dan menulis hingga menjahit, menyulam, membatik, mencuci, serta keterampilan rumah tangga lainnya.

Jumlah murid yang terus bertambah membuat ruangan di Kepatihan Bandung tidak lagi mencukupi.

Enam tahun kemudian, Sakola Istri berganti nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Istri. Perkembangannya terus berlanjut hingga pada 1929 sekolah tersebut menggunakan nama Sekolah Raden Dewi.

4. R. Otto Iskandardinata

R. Otto Iskandardinata merupakan salah satu tokoh perjuangan dari Jawa Barat.

Namanya diabadikan sebagai Jalan Otto Iskandardinata atau Otista, salah satu nama jalan yang cukup dikenal di Bandung.

Otto memiliki julukan Si Jalak Harupat, yang menggambarkan keberanian dan keteguhannya dalam perjuangan.

Ia dikenal sebagai sosok yang berani melawan kebijakan pemerintah kolonial Belanda dan bersikap nonkooperatif terhadap penjajahan.

Otto diperkirakan meninggal pada 20 Desember 1945 di Pantai Mauk, Banten.

5. Laksamana Laut R.E. Martadinata

Bagi masyarakat Bandung, nama Laksamana R.E. Martadinata tidak asing karena diabadikan menjadi nama salah satu jalan utama di kota tersebut.

Laksamana Eddy Martadinata lahir di Bandung pada 29 Maret 1921.

Ia dikenal sebagai pejuang dan pemimpin yang memiliki kontribusi besar dalam perjalanan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut.

Dalam catatan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Eddy Martadinata disebut sebagai orang pertama di jajaran TNI Angkatan Laut yang memperoleh pangkat Laksamana.

6. Mohammad Toha

Mohammad Toha merupakan pahlawan kelahiran Bandung yang dikenal dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ia pernah menjadi komandan Barisan Rakjat Indonesia (BRI), kelompok perjuangan pada masa Perang Kemerdekaan.

Toha mulai mengenal dunia kemiliteran ketika bergabung dengan Seinendan pada masa pendudukan Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, ia bergabung dengan BRI dan dikenal sebagai pemuda yang cerdas, disiplin, serta pemberani.

Namanya kemudian dikaitkan erat dengan peristiwa Bandung Lautan Api. Hingga kini, nama Mohammad Toha juga diabadikan sebagai nama jalan di Bandung.

7. Ki Bagus Rangin

Ki Bagus Rangin atau Bagus Rangin merupakan tokoh perlawanan rakyat yang dikenal di wilayah Cirebon.

Ia menjadi salah satu pemimpin perlawanan rakyat Cirebon terhadap penjajahan Belanda.

Selain memimpin perjuangan, Bagus Rangin juga berdakwah untuk membangun semangat nasionalisme dan moral keagamaan masyarakat.

Ia dikenang sebagai pemimpin yang bertanggung jawab, mencintai rakyat, dan berusaha memberikan teladan melalui sikap serta ajarannya.

8. Suwarsih Djojopuspito

Suwarsih Djojopuspito lahir di Bogor pada 20 April 1912.

Ia merupakan seorang penulis Indonesia yang menghasilkan karya dalam tiga bahasa, yakni Sunda, Belanda, dan Indonesia.

Suwarsih menempuh pendidikan di Kartini School Bogor bersama kakaknya, Nining. Setelah itu ia memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke MULO dan kemudian Europeesche Kweekschool di Surabaya.

Sekolah guru tersebut pada masa itu merupakan sekolah pendidikan guru Belanda. Dari 28 murid, hanya terdapat dua orang pribumi, termasuk Suwarsih.

Pada masa pendudukan Jepang, Suwarsih sempat mengajar di Sekolah Dasar Dai-ichi Menteng.

Meskipun kehidupannya harus berpindah-pindah dan aktivitas mengajarnya sempat terhenti, ia tetap menuangkan gagasan melalui novel dan buku.

Suwarsih meninggal pada 1977 dan dimakamkan di kompleks pemakaman Tamansiswa Taman Wijayabrata, Celeban, Umbulharjo, Yogyakarta.

9. Raden Ayu Lasminingrat

Raden Ayu Lasminingrat merupakan tokoh perempuan yang dikenal karena perjuangannya dalam memajukan pendidikan dan kehidupan perempuan di Garut.

Ia merupakan putri seorang penghulu sekaligus ahli sastra dari wilayah Pasundan.

Pada 1907, Lasminingrat mendirikan Sakola Kautamaan Istri. Sekolah tersebut pada awalnya diperuntukkan bagi perempuan dari kalangan terpandang.

Pendidikan yang diberikan menggabungkan pengetahuan yang diperoleh dari sistem pendidikan Belanda, seperti membaca dan menulis, dengan nilai serta adat Sunda.

Lasminingrat juga dikenal memiliki kemampuan bahasa Belanda. Ia bahkan menerjemahkan cerita-cerita karya Grimm bersaudara.

Salah satu karya tulisnya yang dikenal adalah Warna Sari, yang mengangkat cerita mengenai ambisi, tekad perempuan, hak perempuan, percintaan, hingga persoalan perjodohan.

10. KH Zainal Mustafa

KH Zainal Mustafa merupakan tokoh yang dikenal karena keberaniannya menentang penjajahan, baik pada masa kolonial Belanda maupun pendudukan Jepang.

Ia mendirikan Pondok Pesantren Sukamanah pada 1927 dan berusaha memadukan perjuangan kebangsaan dengan pendidikan agama.

Zainal Mustafa pernah ditangkap dan dipenjara di Sukamiskin.

Pada masa pendudukan Jepang, ia menolak bekerja sama dengan pemerintah Jepang. Sikap tersebut kemudian memicu konflik hingga Pesantren Sukamanah diserang oleh tentara Jepang.

Pertempuran terjadi dan Zainal Mustafa akhirnya ditangkap.

11. Nyi Raden Rachmatulhadiah Poeradiredja

Nyi Raden Rachmatulhadiah Poeradiredja, yang lebih dikenal sebagai Emma Poeradiredja, merupakan tokoh perempuan yang ikut memperjuangkan persatuan dan pergerakan pemuda pribumi.

Ia pernah menjadi anggota Jong Java, organisasi yang didirikan Satiman Wirjosandjojo.

Emma turut terlibat dalam kegiatan yang mendorong persatuan pelajar pribumi sekaligus mengembangkan pengetahuan dan kesenian.

Pada 1927, Emma bersama sejumlah rekannya membentuk Dameskring, wadah pemuda-pemudi Indonesia yang salah satu kegiatannya berkaitan dengan penguatan organisasi perempuan.

Ia kemudian terlibat dalam Kongres Pemuda Indonesia II pada 1928 di Jakarta.

Setelah kongres tersebut, terbentuk PASI atau Pasundan Istri, organisasi perempuan Jawa Barat yang memperjuangkan kebutuhan masyarakat Jawa Barat.

12. Raden Siti Jenab

Nyi Raden Siti Djenab Djatradidjaja dikenal karena perjuangannya memperluas pendidikan bagi perempuan di Cianjur.

Ia merupakan salah satu perempuan yang pernah bersekolah di Sekolah Raden Dewi.

Setelah memperoleh pendidikan, Siti Jenab kemudian berusaha menyebarkan ilmu kepada masyarakat. Ia bahkan mengenalkan pendidikan perempuan secara langsung dari rumah ke rumah.

Ia kemudian mendirikan sekolah di Cianjur dengan metode yang memiliki kemiripan dengan sekolah tempatnya belajar.

Pelajaran yang diberikan antara lain bahasa Sunda, Melayu, Belanda, matematika dasar, budi pekerti, serta berbagai keterampilan seperti membatik dan merenda.

13. Kiai Haji Noer Ali

KH Noer Ali merupakan pejuang kemerdekaan yang lahir di Bekasi, Jawa Barat.

Ia dikenal sebagai pemimpin Islam dan tokoh perjuangan pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Pada 1937, KH Noer Ali bersama Hasan Basri membentuk dan memimpin Persatuan Pelajar Betawi.

Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, KH Noer Ali terlibat dalam pertempuran di wilayah Karawang-Bekasi pada 1947.

Salah satu bentuk perjuangannya adalah memerintahkan warga dan pasukannya membuat bendera Merah Putih berukuran kecil untuk dipasang di pohon maupun tiang.

Cara tersebut digunakan untuk menunjukkan keberadaan Indonesia sekaligus membangun semangat masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan.

14. Iwa Koesoema Soemantri

Iwa Koesoema Soemantri lahir di Ciamis pada 1899 dan meninggal dunia di Jakarta pada 27 September 1971.

Ia dikenal sebagai aktivis kemerdekaan, ahli hukum, politikus, dan pengarang.

Iwa juga pernah menjadi menteri pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Salah satu kontribusinya dalam sejarah kemerdekaan adalah gagasannya kepada Soekarno dan Mohammad Hatta agar istilah “Maklumat Kemerdekaan” diganti menjadi “Proklamasi”.

Iwa kemudian menjadi Rektor pertama Universitas Padjadjaran (Unpad).

Namanya juga diabadikan di lingkungan Universitas Padjadjaran. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

15. Achmad Soebardjo

Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo lahir di Karawang pada 1896 dan meninggal dunia pada 1978.

Ia merupakan salah satu tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang kemudian berkiprah sebagai diplomat dan pejabat pemerintahan.

Achmad Soebardjo dikenal sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama.

Atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2009.

Tokoh Asal Jawa Barat Lainnya

Selain nama-nama tersebut, terdapat pula sejumlah tokoh asal Jawa Barat yang pernah masuk dalam pembahasan pengusulan gelar Pahlawan Nasional.

Dalam sumber ini, Mochtar Kusumaatmadja dan Inggit Garnasih disebut sebagai dua nama yang masih berada dalam daftar tunggu atau waiting list untuk memperoleh gelar tersebut.

Kesimpulan

Jawa Barat memiliki banyak tokoh yang berkontribusi dalam perjalanan bangsa Indonesia. Kiprah mereka tidak hanya berlangsung di medan perjuangan, tetapi juga melalui pendidikan, organisasi, politik, pemerintahan, militer, sastra, dan gerakan sosial.

Mulai dari Ahmad Sanusi yang berkiprah dalam BPUPKI, Djoeanda Kartawidjaja dengan Deklarasi Djoeanda, Dewi Sartika melalui perjuangan pendidikan perempuan, hingga Otto Iskandardinata, Mohammad Toha, KH Zainal Mustafa, KH Noer Ali, Iwa Koesoema Soemantri, dan Achmad Soebardjo, masing-masing memiliki perjalanan dan kontribusi yang berbeda.

Kisah mereka menunjukkan bahwa perjuangan membangun Indonesia tidak hanya dilakukan melalui pertempuran, tetapi juga lewat pendidikan, gagasan, organisasi, diplomasi, dan pengabdian kepada masyarakat.

Karena itu, mengenal kembali tokoh-tokoh asal Jawa Barat bukan sekadar mengetahui nama yang dijadikan nama jalan atau bangunan, tetapi juga memahami peran dan perjuangan yang berada di balik nama tersebut.

Artikel Terkait

Tokoh di Balik Perjalanan Shell Indonesia, dari Era Hindia Belanda hingga Transformasi Energi
Rachmat Gobel Pewaris Gobel Group, Mantan Menteri Perdagangan, dan Tokoh Hubungan Indonesia–Jepang
10 Tokoh di Balik Bersinarnya Netflix
Tokoh di Balik Kesuksesan Boeing, dari Pendiri hingga Pemimpin Industri Penerbangan
Cara Camat di Boyolali Mengirim Video Mesum ke Mantan Karyawan Tanpa Takut Kehilangan Jabatan

Baca Juga:

Type above and press Enter to search.