Your 1st Ads Here

Dosen Kritisi : Kampus Center of Excellence Menjadi Center of Catering

Unveiling the Crisis of Plastic Pollution: Analyzing Its Profound Impact on the Environment

Sebuah terobosan gemilang kembali dicatat oleh dunia pendidikan tinggi kita. Lupakan sejenak mimpi masuk jajaran Top 100 World University Rankings atau jurnal Scopus Q1. Kini, indikator kinerja utama (IKU) perguruan tinggi negeri tampaknya bergeser ke arah yang jauh lebih mengenyangkan: akreditasi dapur dan higienitas ulekan sambal.

Di sela-sela acara "Makas" (Makan Asyik tapi Serius) yang digelar di sebuah aula kampus yang mendadak wangi tumisan bawang, atmosfer akademik terasa begitu revolusioner. Di sudut ruangan, seorang sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, tampak mengelus dada—mungkin sedang menguji tingkat elastisitas kesabaran akademiknya, atau jangan-jangan sedang menghitung kalori dari kebijakan terbaru ini.

Dengan nada bicara yang kurang sinkron dengan semangat "merdeka belajar butuh asupan gizi", Rakhmat melempar kritik yang cukup merusak selera makan siang para pejabat kampus. Ia menyebut masuknya program Makan Bergizi Gratis (MBG) ke dalam wilayah operasional universitas sebagai sebuah "langkah mundur yang sangat mengenyangkan."

"Luar biasa. Kampus kita sekarang sukses bertransformasi. Dulu mahasiswa demo menuntut kebebasan akademik, sekarang mungkin mereka harus demo kalau kuah sayur asemnya kurang asin," sindir seorang dosen muda yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keselamatan sertifikasi dosennya.

Dari Meneliti Atom ke Menakar Garam

Menurut Rakhmat, kebijakan ini berpotensi besar mencederai kebebasan akademik dan, yang paling penting, menambah beban institusi. Bayangkan saja, para profesor dan doktor yang disekolahkan jauh-jauh ke luar negeri dengan uang pajak rakyat, kini harus menggelar sidang pleno untuk menentukan apakah menu hari Senin adalah ayam geprek atau telur dadar.

Sebagai ruang pengembangan ilmu pengetahuan, kampus idealnya fokus pada hal-hal yang membosankan dan kurang menghasilkan piring kotor, seperti:

  • Peningkatan kualitas akademik (yang tidak bisa dimakan).
  • Riset mutakhir (yang tidak mengenyangkan perut).
  • Pengembangan sumber daya manusia (yang prosesnya lama dan tidak instan seperti mi instan).

Namun, negara tampaknya punya visi lain yang lebih taktis. Melalui Badan Gizi Nasional (BGN), negara berhasil menjalin relasi yang sangat "mesra dan transaksional" dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Mengapa repot-repot menyewa jasa katering profesional yang komersial, jika Anda bisa menggunakan fasilitas kampus yang didanai negara, lengkap dengan tenaga kerja mahasiswa magang yang bisa dibayar dengan nilai "A" atau sertifikat kepanitiaan?

Sebuah Solusi yang Kurang "Akademik"

Rakhmat menegaskan, kalaupun kampus ingin sok sibuk dalam program MBG ini, peran yang diambil harusnya tetap terlihat intelek. Misalnya:

  • Melakukan penelitian tentang dampak psikologis mengunyah tempe terhadap kecepatan menghafal rumus fisika.
  • Menjadi konsultan ahli untuk menentukan kadar protein optimal dalam sebutir telur bagi mahasiswa yang sedang dikejar tenggat skripsi.
  • Memberikan rekomendasi ilmiah bagi dapur-dapur di luar sana.

Bukan malah terjun langsung, menggulung lengan baju toga, dan mengurusi operasional dapur yang sejak awal sudah penuh dengan drama logistik dan anggaran.

Acara "Makas" hari itu pun ditutup dengan sebuah refleksi mendalam dari para hadirin. Jika tren ini terus berlanjut, jangan kaget jika beberapa tahun ke depan, ujian skripsi mahasiswa tidak lagi mempertahankan tesis tentang teori sosial, melainkan ujian mempertahankan konsistensi tekstur bubur kacang ijo di hadapan para dosen penguji.

Selamat makan, kampusku. Semoga tidak tersedak anggaran.

Type above and press Enter to search.

Ruang Iklan