Indonesia Sukses Menjadi Satu-Satunya Negara yang Bolos dari Pemakaman Pemimpin Iran
JAKARTA — Kementerian Luar Negeri RI baru saja mempraktikkan arti sejati dari politik luar negeri "Bebas Aktif". Bebas dari rasa solider, dan aktif menghindari masalah.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, baru-baru ini dibuat terheran-heran oleh keputusan pemerintah yang memilih untuk melakukan ghosting massal terhadap undangan resmi dari Teheran. Undangan tersebut terkait upacara pemakaman pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, yang tewas akibat serangan militer ilegal.
Sementara negara-negara lain seperti Arab Saudi, Qatar, Rusia, hingga tetangga sebelah Malaysia berbondong-bondong mengirim delegasi tingkat tinggi, Indonesia dengan gagah berani memilih untuk absen. Kita hanya menyisakan Duta Besar RI di Teheran sendirian di pojokan, sebuah gestur diplomatik yang oleh pihak Iran mungkin dianggap setara dengan membaca pesan WhatsApp tapi lupa membalasnya selama tiga minggu.
Baca juga : Menteri Luar Negeri Indonesia dari Masa ke Masa
Teori 1: Sindrom "Takut Dimarahi Paman Sam"
Spekulasi pun merebak di lini masa. Apakah polugri bebas aktif kita sekarang sudah bermutasi menjadi "bebas jika diizinkan, dan aktif memantau lampu hijau dari Washington"?
Wajar saja jika publik curiga bahwa faktor "FEAR" (ketakutan) kini resmi masuk ke dalam kurikulum diklat diplomat muda kita. Mengirim menteri ke Iran di tengah situasi panas tentu membutuhkan nyali yang besar. Jauh lebih aman dan minim risiko jika kita tetap diam di rumah, rebahan, sambil berharap Amerika Serikat tidak melihat catatan kehadiran kita di kancah internasional. Ini adalah strategi bertahan hidup yang sangat pragmatis: lebih baik dicap tidak setia kawan oleh Iran daripada kuota impor i-Phone kita dipersulit oleh Barat.
Teori 2: Birokrasi Macet, Undangan Dijadikan Ganjelan Meja
Namun, pengamat yang paham betul anatomi birokrasi Indonesia memiliki teori yang jauh lebih realistis dan membumi: Undangannya nyangkut.
Besar kemungkinan, surat undangan resmi dari pemerintah Iran yang ditulis dengan tinta emas itu saat ini sedang tertimbun di bawah tumpukan nota dinas, proposal studi banding, atau malah dijadikan ganjelan meja goyang di salah satu ruangan kementerian. Di negara di mana keputusan sekecil menentukan potongan omelet saja harus menunggu komando pusat, bayangkan betapa horornya para pejabat eselon saat harus mendisposisikan surat undangan dari negara yang sedang konflik.
Baca juga : Para Tokoh Pendiri Asean, Diplomat Ulung
"Daripada saya tanda tangan lalu salah ambil keputusan, mending surat ini saya selipkan di bawah kalender tahun lalu," bisik seorang pejabat fiktif dalam hati dengan penuh kearifan lokal.
Nasib Wamenlu Dunia Islam: Asia Tengah Lebih Menggoda daripada Teheran
Padahal, Indonesia sebenarnya punya posisi menteri yang sangat spesifik dan cocok untuk situasi ini: Wakil Menteri Luar Negeri urusan Dunia Islam, Anis Matta. Publik tentu berharap beliau akan langsung terbang ke Teheran sebagai simbol solidaritas negara muslim terbesar di dunia.
Namun apa daya, takdir berkata lain. Sang Wamenlu justru dilaporkan sedang sibuk keliling Asia Tengah untuk melakukan kunjungan rutin yang sifatnya sangat administratif. Tampaknya, meninjau protokol kerja sama kebudayaan di negara-negara pecahan Uni Soviet jauh lebih mendesak dan menyehatkan bagi jantung ketimbang menghadiri pemakaman yang penuh dengan pesan geopolitik yang sensitif.
Kesimpulan: Sahabat Lama yang Terlupakan demi Ketenangan Batin
Kita tampaknya melupakan sejarah bahwa Iran adalah sahabat lama yang tidak pernah mencari gara-gara dengan Indonesia. Tapi ya sudah lah, nasi sudah menjadi bubur, dan undangan sudah kedaluwarsa.
Setidaknya, absennya Indonesia di Teheran berhasil mengirimkan pesan yang sangat konsisten kepada dunia: bahwa dalam urusan geopolitik global, Indonesia adalah negara yang sangat menghargai kedamaian internal. Mengapa kita harus repot-repot menegakkan hukum internasional dan mengirim sinyal tegas menentang pembunuhan ilegal, jika kita bisa duduk manis di Jakarta sambil pura-pura tidak membaca undangan? Bebas-aktif itu melelahkan, lebih baik kita fokus pasang tracker kuno di mobil mahasiswa saja. Selesai perkara!
sumber : x.com/dinopattidjalal