Lo Kheng Hong, Profil Investor Saham yang Dijuluki Warren Buffett Indonesia
Nama Lo Kheng Hong sudah lama dikenal di kalangan investor saham Indonesia. Ia dikenal sebagai investor individu dengan pendekatan value investing dan kerap mendapat julukan “Warren Buffett Indonesia” karena gaya investasinya yang berfokus pada perusahaan berkualitas, fundamental kuat, dan valuasi yang menurutnya menarik. OJK sendiri memasukkan Lo Kheng Hong dalam materi literasi pasar modal sebagai salah satu contoh investor saham Indonesia.
Menariknya, perjalanan Lo Kheng Hong menuju dunia investasi tidak dimulai dari keluarga kaya atau posisi penting di perusahaan investasi. Ia justru mengawali karier sebagai pegawai administrasi bank dan baru mulai membeli saham ketika berusia sekitar 30 tahun.
Siapa Lo Kheng Hong?
Lo Kheng Hong lahir di Jakarta pada 20 Februari 1959. Ia kemudian menempuh pendidikan di Universitas Nasional dengan mengambil jurusan Sastra Inggris melalui kuliah malam sambil bekerja. Data OJK dan Universitas Nasional sama-sama mencatat tanggal lahir tersebut.
Setelah menyelesaikan SMA, kondisi ekonomi keluarganya membuat Lo Kheng Hong harus bekerja sebelum dapat melanjutkan pendidikan tinggi. Ia kemudian bekerja sebagai pegawai tata usaha di PT Overseas Express Bank (OEB) sambil berkuliah.
Dari pekerjaannya di bank inilah ketertarikannya terhadap laporan keuangan mulai berkembang.
Awal Karier Lo Kheng Hong di Bank
Lo Kheng Hong mengawali karier sebagai pegawai tata usaha di Overseas Express Bank. Sambil bekerja, ia mengambil kuliah malam di Universitas Nasional.
Salah satu hal yang menarik dari periode tersebut adalah kebiasaannya membaca berbagai laporan dan dokumen keuangan yang ditemuinya ketika bekerja di bank.
Pada 1990, ia pindah ke Bank Ekonomi dan bekerja di bagian pemasaran. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi kepala cabang.
Pengalaman di perbankan tersebut kemudian menjadi salah satu bekal penting ketika ia mulai serius mempelajari pasar modal.
Lo Kheng Hong Mulai Investasi Saham pada 1989
Berbeda dengan Warren Buffett yang sudah membeli saham sejak usia sangat muda, Lo Kheng Hong baru mulai menjadi investor saham pada usia sekitar 30 tahun, tepatnya pada 1989.
Saham pertama yang dibelinya adalah PT Gajah Surya Multi Finance saat melakukan penawaran umum perdana.
Namun, investasi pertamanya tidak langsung menghasilkan keuntungan.
Harga saham tersebut justru turun sehingga Lo Kheng Hong mengalami kerugian. Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan investasinya.
Alih-alih berhenti, ia justru semakin serius mempelajari investasi dan membaca berbagai buku tentang pasar modal serta investasi nilai.
Memutuskan Pensiun dari Bank
Setelah sekitar 17 tahun bekerja, Lo Kheng Hong mengambil keputusan besar pada 1996.
Ia meninggalkan pekerjaannya di bank dan memilih berkonsentrasi penuh sebagai investor saham.
Keputusan tersebut menarik karena pada saat itu investasi saham belum sepopuler sekarang. Ia memilih meninggalkan pekerjaan tetap untuk menekuni aktivitas yang hasilnya sangat bergantung pada kemampuan membaca perusahaan dan pasar.
Sejak saat itu, investasi saham menjadi aktivitas utamanya.
Filosofi Investasi Lo Kheng Hong
Lo Kheng Hong dikenal sebagai investor value investing.
Pendekatan tersebut pada dasarnya berusaha mencari perusahaan yang memiliki fundamental dan prospek menarik tetapi harga sahamnya dianggap belum mencerminkan nilai sebenarnya.
Karena itu, ia tidak hanya melihat pergerakan harga saham.
Laporan keuangan, aset perusahaan, profitabilitas, utang, prospek bisnis, dan valuasi menjadi bagian penting dalam proses analisis.
Dalam materi literasi pasar modal OJK, Lo Kheng Hong digambarkan sebagai investor yang meyakini bahwa seseorang dapat memperoleh kekayaan melalui kepemilikan saham perusahaan terbuka yang terus bertumbuh dan menghasilkan laba.
Reading, Thinking, Investing
Salah satu kebiasaan Lo Kheng Hong yang cukup terkenal adalah RTI, singkatan dari:
- Reading
- Thinking
- Investing
OJK mencatat bahwa rutinitasnya banyak diisi dengan membaca koran, laporan keuangan, serta data perusahaan dan pasar, kemudian memikirkannya sebelum mengambil keputusan investasi.
Konsep tersebut menggambarkan pendekatan Lo Kheng Hong yang tidak mengandalkan keputusan investasi secara spontan.
Baginya, proses membaca dan berpikir menjadi bagian penting sebelum akhirnya mengambil posisi pada sebuah saham.
Investasi yang Pernah Memberikan Keuntungan Besar
Nama Lo Kheng Hong semakin dikenal karena sejumlah investasinya yang menghasilkan keuntungan sangat besar.
Salah satu yang sering dibahas adalah saham PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (MBAI).
Menurut laporan Katadata, Lo Kheng Hong membeli saham MBAI pada harga sekitar Rp250 per saham pada 2005, kemudian menjualnya pada 2011 di sekitar Rp31.500. Kenaikan tersebut setara sekitar 126 kali dari harga pembelian awal atau sekitar 12.500%.
Investasi lain yang sering dikaitkan dengan perjalanan investasinya adalah PT Panin Financial Tbk (PNLF).
Namun, angka keuntungan dari masing-masing investasi perlu dilihat berdasarkan periode pembelian, penjualan, aksi korporasi, dan jumlah saham yang dimiliki. Karena itu, angka tersebut tidak bisa langsung diterjemahkan sebagai tingkat keuntungan yang dapat diperoleh investor lain.
Portofolio Lo Kheng Hong
Portofolio Lo Kheng Hong juga menjadi salah satu hal yang sering menarik perhatian investor ritel.
Beberapa saham yang pernah diberitakan terkait kepemilikannya antara lain BMTR, CFIN, DILD, dan GJTL.
Namun, komposisi portofolio seseorang dapat berubah seiring waktu.
Karena itu, daftar saham yang pernah atau sedang dimiliki Lo Kheng Hong sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai “daftar saham yang wajib dibeli”.
Justru yang lebih relevan untuk dipelajari adalah alasan di balik keputusan investasinya.
Kenapa Lo Kheng Hong Disebut Warren Buffett Indonesia?
Julukan tersebut muncul karena kesamaan pendekatan investasi yang sering diasosiasikan dengan value investing.
Keduanya dikenal menaruh perhatian besar terhadap fundamental perusahaan dan investasi jangka panjang, bukan sekadar mengejar pergerakan harga dalam hitungan hari.
Namun, Lo Kheng Hong bukan Warren Buffett versi Indonesia.
Keduanya berinvestasi di lingkungan pasar yang berbeda, dengan skala modal, karakter perusahaan, regulasi, dan kondisi ekonomi yang berbeda pula.
Karena itu, julukan tersebut lebih tepat dipahami sebagai sebutan populer, bukan berarti strategi keduanya identik.
Gaya Hidup Lo Kheng Hong
Hal lain yang membuat Lo Kheng Hong menarik perhatian adalah gaya hidupnya yang relatif sederhana dibandingkan gambaran publik mengenai seseorang yang telah sukses besar dari pasar saham.
Universitas Nasional dalam profilnya menyebut perjalanan Lo Kheng Hong bermula dari kondisi keluarga sederhana dan kemudian berkembang menjadi investor yang dikenal luas di pasar modal Indonesia.
Kisah tersebut menjadi salah satu alasan namanya sering digunakan sebagai contoh bahwa keberhasilan investasi tidak selalu dimulai dengan modal besar.
Yang menjadi pembeda adalah waktu, disiplin, pengetahuan, dan kemampuan memilih investasi.
Lo Kheng Hong dan Prinsip Investasi Jangka Panjang
Salah satu pelajaran yang sering dikaitkan dengan Lo Kheng Hong adalah pentingnya melihat saham sebagai bagian dari kepemilikan sebuah bisnis.
Dengan perspektif tersebut, investor tidak hanya bertanya:
“Besok harga sahamnya naik atau turun?”
Tetapi juga:
“Apakah perusahaan ini memiliki bisnis yang layak dimiliki dalam jangka panjang?”
Pertanyaan tersebut sejalan dengan pendekatan value investing yang selama ini melekat pada profil Lo Kheng Hong.
Kekayaan Lo Kheng Hong Berapa?
Pertanyaan mengenai kekayaan Lo Kheng Hong sering muncul karena besarnya nilai investasi yang pernah diberitakan.
OJK mencatat bahwa pada 2012 ia memiliki aset berupa saham dengan nilai sekitar Rp2,5 triliun.
Namun, angka tersebut merupakan catatan pada periode tertentu dan tidak dapat dianggap sebagai nilai kekayaan Lo Kheng Hong saat ini.
Nilai portofolio saham dapat berubah setiap hari mengikuti harga pasar, sementara kepemilikan saham juga dapat berubah akibat transaksi maupun aksi korporasi.
Karena itu, angka kekayaan terbaru sebaiknya tidak disimpulkan hanya dari data lama tersebut.
Apakah Lo Kheng Hong Masih Aktif Berinvestasi?
Lo Kheng Hong masih dikenal sebagai investor yang aktif berbicara mengenai investasi saham dan berbagi pengalamannya.
Pada November 2025, misalnya, ia hadir sebagai narasumber dalam UNAS Festival 2025 dan membagikan perjalanan hidup serta pengalamannya dalam dunia investasi kepada mahasiswa.
Kehadirannya dalam berbagai seminar dan diskusi membuat Lo Kheng Hong tidak hanya dikenal karena portofolionya, tetapi juga karena gagasan investasinya.
Pelajaran Investasi dari Lo Kheng Hong
Ada beberapa hal yang dapat dipelajari dari perjalanan Lo Kheng Hong, tanpa harus meniru portofolionya secara mentah.
1. Mulai Belajar Sebelum Modal Besar
Lo Kheng Hong mulai berinvestasi ketika modalnya belum besar. Pengalaman awalnya bahkan diwarnai kerugian.
Artinya, pengalaman investasi dibangun melalui proses belajar, bukan muncul setelah seseorang memiliki banyak uang.
2. Pahami Perusahaan
Investor perlu memahami bisnis yang sahamnya dibeli.
Membaca laporan keuangan menjadi salah satu cara untuk mengetahui bagaimana perusahaan menghasilkan uang, mengelola utang, menghasilkan laba, dan menggunakan modal.
3. Jangan Hanya Melihat Harga
Saham murah secara nominal belum tentu murah secara valuasi.
Sebaliknya, saham dengan harga per lembar tinggi belum tentu mahal jika fundamental dan prospek bisnisnya mendukung.
4. Berpikir Jangka Panjang
Salah satu karakter yang melekat pada Lo Kheng Hong adalah kesabaran.
Investasi bukan selalu tentang menemukan saham yang naik paling cepat, tetapi juga tentang menemukan bisnis yang mampu berkembang dalam jangka panjang.
5. Jangan Sekadar Meniru Portofolio
Ini mungkin pelajaran yang paling penting.
Ketika seorang investor terkenal membeli saham tertentu, investor ritel sering tergoda ikut membeli.
Padahal, kondisi keuangan, harga beli, tujuan investasi, dan toleransi risiko setiap orang berbeda.
Yang lebih berharga untuk ditiru adalah cara berpikirnya, bukan sekadar daftar sahamnya.
Kesimpulan
Lo Kheng Hong merupakan salah satu investor individu paling dikenal di pasar modal Indonesia. Lahir di Jakarta pada 20 Februari 1959, ia mengawali perjalanan karier dari pegawai administrasi bank sebelum akhirnya memutuskan menjadi investor saham penuh waktu pada 1996.
Ia mulai berinvestasi pada 1989 dan sempat mengalami kerugian dari investasi pertamanya. Namun, pengalaman tersebut justru mendorongnya untuk semakin serius mempelajari laporan keuangan dan prinsip value investing.
Kini, namanya identik dengan pendekatan membeli perusahaan berdasarkan fundamental dan valuasi, serta kesabaran dalam menunggu hasil investasi.
Julukan “Warren Buffett Indonesia” memang melekat padanya, tetapi kisah Lo Kheng Hong memiliki karakter tersendiri: seorang mantan bankir yang belajar investasi secara mandiri, meninggalkan pekerjaan tetap, kemudian membangun kekayaan melalui pasar saham.
Bagi investor pemula, warisan terpenting dari kisah Lo Kheng Hong mungkin bukan berapa besar kekayaannya, melainkan satu kebiasaan yang terus ia tekankan: reading, thinking, investing.
FAQ
Lo Kheng Hong siapa? Lo Kheng Hong adalah investor saham individu Indonesia yang dikenal dengan pendekatan value investing dan sering dijuluki Warren Buffett Indonesia.
Lo Kheng Hong lahir kapan? Lo Kheng Hong lahir pada 20 Februari 1959 di Jakarta.
Lo Kheng Hong kuliah di mana? Ia berkuliah di Universitas Nasional, jurusan Sastra Inggris, sambil bekerja dan mengikuti kuliah malam.
Kapan Lo Kheng Hong mulai investasi saham? Ia mulai berinvestasi saham pada 1989, ketika berusia sekitar 30 tahun.
Apa saham pertama Lo Kheng Hong? Saham pertama yang tercatat dalam perjalanan investasinya adalah PT Gajah Surya Multi Finance. Investasi tersebut sempat mengalami kerugian.
Apa strategi investasi Lo Kheng Hong? Ia dikenal menggunakan pendekatan value investing, dengan perhatian besar pada fundamental perusahaan, nilai intrinsik, dan valuasi saham.
Apa arti RTI menurut Lo Kheng Hong? RTI merupakan singkatan dari Reading, Thinking, Investing—membaca, berpikir, kemudian berinvestasi.
Mengapa Lo Kheng Hong disebut Warren Buffett Indonesia? Karena pendekatan investasinya yang dikenal berorientasi jangka panjang dan value investing, meskipun strategi keduanya tidak sepenuhnya sama.
Berapa kekayaan Lo Kheng Hong? Tidak ada angka publik yang dapat dijadikan patokan kekayaan terkini. OJK mencatat bahwa pada 2012 nilai aset sahamnya mencapai sekitar Rp2,5 triliun, tetapi angka tersebut bukan nilai kekayaannya saat ini.
Apa pelajaran utama dari Lo Kheng Hong? Memahami bisnis dan laporan keuangan, bersabar, memperhatikan valuasi, serta tidak sekadar mengikuti portofolio investor lain.
Jika artikel ini akan masuk seri profil tokoh keuangan, angle berikutnya yang kuat adalah membedah “5 Saham yang Pernah Membuat Lo Kheng Hong Cuan Besar” dengan timeline harga beli, harga jual, dan alasan investasinya.